Selasa, 22 September 2015

TUGAS 3 - KOMUNIKASI ANTARPRIBADI DAN KOMUNIKASI ANTARBUDAYA

KOMUNIKASI ANTARPRIBADI/INTERPERSONAL
            Komunikasi antarpribadi adalah proses penyampaian pesan dan penerimaan pesan antara pengirim (sender) dengan penerima (receiver) baik secara langsung maupun tidak langsung. Komunikasi dikatakan terjadi secara langsung (primer) apabila pihak-pihak yang terlibat komunikasi berbagi informasi tanpa melalui media. Sedangkan komunikasi tidak langsung (sekunder) dicirikan oleh adanya penggunaan media tertentu.
A.   KOMPONEN

·     Sumber
·     Encoding
·     Pesan
·     Saluran
·     Penerima
·     Decoding
·     Respon
·     Gangguan
·     Konteks komunikasi


B.   PROSES
1.   Keinginan berkomunikasi. Seorang komunikator mempunyai keinginan untuk berbagi gagasan dengan orang lain.
2.   Encoding oleh komunikator. Encoding merupakan tindakan memformulasikan isi pikiran atau gagasan ke dalam simbol-simbol, kata-kata, dan sebagainya.
3.   Pengiriman pesan. Untuk menyampaikan pesan kepada komunikan seorang komunikator memilih saluran komunikasi seperti telepon, SMS, Surat, E-Mail dan lain-lain.
4.   Decoding oleh komunikan, merupakan kegiatan internal dalam diri penerima. Dalam hal ini decoding adalah proses memahami pesan.
5.   Umpan balik. Setelah menerima pesan dan memahaminya, komunikan memberikan respon atau umpan balik. Dengan umpan balik ini seorang komunikator dapat mengevaluasi keefektifitasan komunikasi.

C.   DAMPAK
1.      Dampak Kognitif. Menyebabkan komunikan menjadi tahu atau meningkat intelektualnya.
2.      Dampak Afektif. Tergerak hati komunikan tersebut, seperti rasa iba, terharu, sedih, gembira, marah dan lain-lain.
3.      Dampak Behavioral. Dampak yang paling tinggi kadarnya. Yakni dampak yang timbul pada komunikan dalam bentuk, prilaku, tindakan atau kegiatan.

D.   MACAM BENTUK
1.   Dialog. adalah percakapan yang memiliki maksud untuk saling mengerti, memahami, dan mampu menciptakan kedamaian dala m bekerjasama untuk memenuhi kebutuhannya.
2.   Sharing. merupakan bertukar pendapat, berbagi pengalaman, merupakan pembicaraan antara dua orang atau lebih, dimana pelaku komunikasi saling menyampaikan apa yang pernah dialaminya.
3.   Wawancara. Dalam komunikasi wawancara merupakan bentuk komunikasi yang bertujuan mencapai sesuatu.
4.   Konseling. Bentuk komunikasi antarpribadi yang satu ini lebih banyak di pergunakan didunia pendidikan, perusahaan untuk masyarakat.

E.    PESAN YANG DISAMPAIKAN
1.      Komunikasi verbal. Meggunakan satu kata atau lebih. Pengertian verbal sendiri adalah lisan antar manusia lewat kata-kata dan simbol umum yang sudah disepakati antara individu, kelompok, dan Negara. Jadi komunikasi verbal adalah komunikasi manusia yang menggunakan kata-kata secara lisan dan dilakukan oleh manusia lain.
2.      Komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal adalah proses komunikasi dimana pesan disampaikan tidak menggunakan kata-kata. Fungsi komunikasi nonverbal :
·      Fungsi Repetisi (Pengulangan)
·      Fungsi Komplemen (Melengkapi)
·      Fungsi Substitusi (Menggantikan)
·      Fungsi Regulasi (Menghubungkan)
·      Fungsi Kontradiksi (Membantah)

KOMUNIKASI ANTARBUDAYA
Komunikasi antarbudaya adalah komunikasi yang terjadi di antara orang-orang yang memiliki kebudayaan yang berbeda bisa beda ras, etnik, atau sosiol ekonomi, atau gabungan dari semua perbedaan ini.
A.   PROSES
1.   Pesan mengandung makna yang dikehendaki oleh penyandi (encorder)
2.   Pesan mengalami suatu perubahan dalam arti pengaruh budaya penyandi balik (decoder), telah menjadi bagian dari makna pesan.
3.   Makna pesan berubah selama fase penerimaan penyandian balik dalam komunikasi antarbudaya karena makna yang dimiliki decoder tidak mengandung makna budaya yang sama dengan encoder. 
B.   EFEKTIVITAS
Schramm mengemukakan komunikasi antarbudaya yang benar-benar efektif harus memperhatikan empat syarat, yaitu:
1) Menghormati anggota budaya lain sebagai manusia
2) Menghormati budaya lain sebagaimana apa adanya dan bukan sebagaimana yang di    kehendaki.
3) Menghormati hak anggota budaya yang lain untuk bertindak berbeda dari cara bertindak.
4) Komunikator lintas budaya yang kompeten harus belajar menyenangi hidup bersama orang dari budaya yang lain
C.   HAMBATAN
1) Keanekaragaman dari tujuan-tujuan komunikasi.
2) Etnosentrisme. Etnosentrisme cenderung menganggap rendah orang-orang yang dianggap asing dan memandang budaya-budaya asing dengan budayanya sendiri .
3) Tidak adanya kepercayaan karena sifatnya yang khusus, komunikasi antarbudaya merupakan peristiwa pertukaran informasi yang peka terhadap kemungkinan terdapatnya ketidak percayaan antara pihak-pihak yang terlibat.
4) Penarikan diri komunikasi tidak mungkin terjadi bila salah satu pihak secara psikologis menarik diri dari pertemuan yang seharusnya terjadi.
5) Tidak adanya empati, beberapa hal yang menghambat empati antara lain: (a) Fokus terhadap diri sendiri secara terus menerus,. (b) Pandangan-pandangan stereotype mengenai ras dan kebudayaan. (c) Kurangnya pengetahuan terhadap kelompok, kelas atau orang tertentu. 
D.   PRINSIP
1) Relativitas Bahasa. Dirumuskan bahwa karakteristik bahasa memengaruhi proses kognitif. Dan karena bahasa-bahasa di dunia sangat berbeda-beda, maka masuk akal bahwa orang yang menggunakan bahasa yang berbeda juga akan berbeda dalam cara mereka memandang dan berpikir tentang dunia.
2) Bahasa Sebagai Cermin Budaya. Makin besar perbedaan budaya, makin perbedaan komunikasi baik dalam bahasa maupun dalam isyarat-isyarat nonverbal. Makin besar perbedaan antara budaya makin sulit komunikasi dilakukan.
3) Mengurangi Ketidak-pastian. Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besarlah ketidak-pastian dam ambiguitas dalam komunikasi.
4) Kesadaran Diri dan Perbedaan Antarbudaya . Makin besar perbedaan antarbudaya, makin besar kesadaran diri (mindfulness) para partisipan selama komunikasi.
5) Memaksimalkan Hasil Interaksi. Dalam komunikasi antar budaya seperti dalam semua komunikasi, berusaha memaksimalkan hasil interaksi.
E.    CULTURE SHOCK
Culture Shock adalah kegelisahan yang muncul dari kehilangan semua lambang dan simbol yang familiar dalam hubungan sosial, termasuk di dalamnya berbagai cara yang mengarahkan kita dalam situasi keseharian, misalnya bagaimana untuk memberi perintah, bagaimana membeli sesuatu, dan lain sebagainya.
Terdapat 4 (empat) tingkatan culture shock. Keempat tingkatan ini dapat digambarkan dalam bentuk kurva U, sehingga disebut U-curve.
1.      Fase optimistik (Optimistic Phase), fase pertama yang digambarkan berada pada bagian kiri atas dari kurva U. fase ini berisi kegembiraan, rasa penuh harapan dan euforia sebagai antisipasi individu sebelum memasuki budaya baru
2.      Fase Masalah Kultural (Cultural Problems), fase kedua dimana masalah dengan lingkungan baru mulai berkembang, misalnya karena kesulitan bahasa, sistem lalu lintas baru, sekolah baru dan lain-lain. Fase ini biasanya ditandai dengan rasa kecewa dan ketidakpuasan. Ini adalah periode krisis dalam culture shock. Orang menjadi bingung dan tercengang dengan sekitarnya dan dapat menjadi frustasi dan mudah tersinggung, bersikap bermusuhan, mudah marah, tidak sabar dan bahkan menjadi tidak kompeten.
3.      Fase Kesembuhan (Recovery Phase), fase ketiga dimana orang mulai mengerti mengenai budaya barunya. Pada tahap ini, individu secara bertahap membuat penyesuaian dan perubahan untuk menanggulangi budaya baru. Orang-orang dan peristiwa dalam lingkungan baru mulai dapat terprediksi dan tidak terlalu menekan.
4.      Fase penyesuaian (Adjustment Phase), fase terakhir, pada puncak kanan U, individu telah mengerti elemen kunci dari budaya barunya (nilai-nilai, pola komunikasi, keyakinan dan lain-lain). Kemampuan untuk hidup dalam dua budaya yang berbeda, biasanya juga disertai dengan rasa puas dan menikmati. Namun beberapa ahli menyatakan bahwa untuk dapat hidup dalam dua budaya berbeda, seseorang akan perlu beradaptasi kembali dengan budayanya terdahulu.

DAFTAR PUSTAKA


Tidak ada komentar:

Posting Komentar